kuliah pagi

Haahh… (menghela napas, karena habis memeras otak untuk menulis sebuah sekapur sirih, yang nyatanya hanya tiga paragraf yang membuat mata melakukan “scroll” pada mouse sebagai tanda telah melihat blog ini, dan menyatakan rasa bosannya, hehe…), hari saya dimulai saat mata saya ini mulai terbuka dan mulai sadar bahwa seluruh tubuh saya sudah tidak berada di atas kasur lagi. “Kuliah” adalah sebuah kata yang bagaikan sebuah dering alarm yang terakumulasi dalam dalam syaraf-syaraf pendengaran (walau terkadang alarm ini tak berfungsi sebagaimana mestinya).

Ya.. sarapan dan berita pagi tidak boleh terlewat, sarapan adalah sumber energi yang membuat tubuh tak gentar menghadapi kuliah semacam fisika kuantum terakselerasi magnet bumi (yang ini bohong… tentunya, tapi cerita lainnya dijamin kebenarannya, he…), dan tak lupa, berita pagi adalah sumber pengetahuan yang bisa dijadikan sebuah bahan pembicaraan apabila ingin mem-flirting (ehhh… bahasanya, sok gaul… ) wanita yang ingin dikenal.

Perjalanan saya ke kampus dilalui dengan menggunakan skuter matic warna hitam yang berukuran mini, hal ini lah yang selalu mengundang perhatian banyak orang karena ukuran tubuh saya yang kurang proporsional, yaitu “panjang” tubuh 186 cm dengan “tebal” tubuh, ya kurang lebih … 46 cm, “kejanggalan” tubuh ini pun semakin kentara saat dipadupadankan dengan sebuah skuter matic berukuran sachet. Tapi saya bukan orang yang terlalu memikirkan kejanggalan tersebut, yang penting adalah bagaimana kehidupan saya menjadi sebuah tantangan yang selalu dapat saya hadapi (hueks…).

Setiba di kampus, seringkali saya teringat bagaimana perjuangan saya masuk ke sini, belajar mati-matian sampai tidak ingat lagi mana hari sabtu dan mana hari senin. saat menginjakkan kaki di gerbang belakang tempat parkir motor saya kadang menyempatkan diri selalu mendongak melihat ke atas, ke pohon-pohon besar yang meneduhi kampus, dan tersenyum simpul saat tersadar kembali bahwa perjuangan dahulu tidak sia-sia. Ya tapi ini hanya awal, hidup tidak berakhir di sini…

Perjalanan saya ke ruang kuliah selalu dihabiskan dengan menunduk sambil berjalan mengamati jalan, seakan mengamati ada berapa buah kerikil yang menempel pada balutan aspal, terlihat bodoh memang… sebagai seseorang yang memiliki mata minus 3 tanpa kacamata memang sangatlah sulit (saya malas pakai kacamata jika bukan di kelas), saya harus selalu merunduk karena ingin menghindari tatapan orang yang dikenal, kenapa? Karena kadang saya tak tahu jika orang yang di depan mata saya adalah orang yang saya kenal! Pernah suatu hari saya berjalan dengan pandangan lurus ke depan, dan tiba-tiba ada orang yang menyapa saya, dan “oh my god…” saya tak tahu siapa dia! Wajahnya samar karena mata rabun ini tidak memberi kualitas visual yang bagus ke otak, lalu saya hanya bilang “hello…” dengan harapan memang orang itu betul-betul menyapa saya. Dan sialnya orang itu menyapa orang di belakang saya… karena tak ingin terlihat bodoh, saya teruskan “hello” tadi dengan bergumam-gumam dan sedikit siulan. Sehingga “salah sapa” saya tersamarkan.

Lebih naas lagi adalah saat saya menyapa seorang perempuan yang saya kira teman saya namun ternyata bukan, tiba-tiba perempuan tersebut langsung lari (ha…?), serba salah? Ya… merunduk adalah solusi agar saya tidak salah menyapa dan dengan begitu saya sampai ke kelas dengan “selamat”. Memang terdengar aneh… lalu?

Masih panjang, tunggu saja, belum klimaks kok…

Advertisement

One Response to kuliah pagi

  1. susansudarwin says:

    waw ceritany serius kali nak… hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.